Wednesday, April 18, 2018

Masih Belajar: Selang Tiga Tahun

Karena Tumblr sedang diblokir sama pemerintah, saya jadi keinget blog ini dan pingin update. 

Emang siapa yang baca? Nggak tau. Hai, siapa pun itu!

Tiga tahun yang lalu, saya menulis tentang belajar. Waktu itu saya sedang liburan akhir semester empat. Nggak, saya nggak jadi kuliah di Fakultas Kedokteran, jadi pastinya nggak bisa jadi dokter anak seperti yang saya tulis disini waktu masih kelas dua SMA. Tapi ya sudah lah, saya yakin kalau nanti saya punya anak dan anak saya sakit, saya juga pasti harus bisa merawat dia sampai sembuh. 

Alhamdulillah, target saya yang waktu itu saya bilang jangka panjang bisa tercapai, yaitu SNMPTN Undangan. Saya lupa, nama saya ditulis di Facebook Pak Wangsa atau nggak ya? Harusnya sih ditulis. Saya masuk ke Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, yang menurut tulisan saya dulu juga fakultas tujuan saya. Padahal jadinya saya masuk IPA. Oke juga kamu, Far. *high-five-ing my 16 year-old, self-doubting, insecure self*

Jurusan apa? Ilmu Ekonomi Islam. Wow. 

Tentunya dulu saya nggak kebayang akan masuk jurusan ini, ya iya lah, wong saya masuk di tahun 2013 itu angkatan pertama. Awal masuk jurusan ini, sempat kepikiran mau pindah jurusan karena culture shock dan setelah ketemu matkul wajib jurusan benar-benar bingung ini tuh belajar apa sih? Ekonomi atau agama??

Untung ada Dea, teman saya dari kelompok ospek, yang pada waktu itu sama-sama merasa salah jurusan tapi akhirnya sama-sama bertahan sampai lulus. Untung juga, saya ide (karena takut empat tahun hidup nggak punya teman) ikut gabung di organisasi yang pada waktu itu baru akan dibentuk, Islamic Business and Economics Community, himpunan mahasiswa jurusan gagasan angkatan kami. 

Kenapa saya bilang untung? Karena saya barusan ikutan polling di insta-story teman saya, Nadiyah, yang biasanya saya panggil Naduk. 
Pertanyaannya: 
  1. Do you love what you're currently doing? i.e. your job or your major/course. 
    • Saya jawab, Of course!
  2. If you don't and if you have a chance, would you switch your career/study, even if it's gonna cost you? 
    • Saya jawab, No. 
Artinya, saya cukup mencintai apa yang saya kerjakan sekarang, kebetulan pekerjaan saya sejalan dengan apa yang saya pelajari waktu kuliah, dan saya tidak merasa perlu menukar apa pun. Bahkan ditukar dengan Grammy Award (angan-angan saya waktu masih SMP) pun rasanya tidak usah. Jadi mungkin, mungkin loh ya, ini adalah passion yang saya cari-cari selama masa abege. Jadi untunglah, untunglah dunia ini membantu melawan kepayahan diri ini yang tadinya mau putar haluan. 

Emang di Ilmu Ekonomi Islam belajar apa?

Riba itu haram, salah satu contoh riba itu bunga bank. Ya, tapi bukan itu doang.

Sebagai gambaran, ekonomi biasanya didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam mengalokasikan sumber daya yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan yang tidak terbatas. Kira-kira begitu. Tapi otak saya diacak-acak (in a good way, I think) di jurusan ini. Coba asumsikan, kalau hanya ada satu manusia yang hidup dan dia punya akses tidak terbatas ke seluruh sumber daya yang ada di bumi. Apa dia nggak perlu mengalokasikan sumber daya itu? Menurut saya tetap perlu. Kenapa? Karena toh dia nggak akan bisa memanfaatkan semuanya sekaligus, dia tetap harus memilih. Kenapa harus memilih? Karena manusianya yang terbatas, bukan sumber dayanya. Contoh, sekarang mau makan apa? Ayam goreng? Ikan bakar? Sop buntut? Tumis kangkung? Nasi goreng? Gado-gado? Semuanya tersedia, silakan disantap sekarang juga kalau mau, kalau bisa. Tapi perut manusia ukurannya cuma sebesar apa sih? Enak aja bilang sumber daya itu terbatas. 

Prinsip itu dasar banget, tapi implikasinya jadi banyak. Jangan serakah. Masa, minjemin uang ke orang lain, terus minta dibalikin lebih? Padahal belum tentu ada nilai tambah dari penggunaan uang pinjaman itu. Coba tonton: I Want the Earth Plus Five Percent, rekomendasi dari Mas Bambang, senior di tempat saya kerja. Kalau uangnya dipakai buat modal usaha boleh deh, ada nilai tambah. Nanti setelah usahanya memperoleh keuntungan, baru keuntungan itu dibagi. Kalau rugi? Ya dibagi juga. Adil kan? Jangan bahas dampak inflasi dan time value of money dulu, panjang urusan, bisa 3 SKS sendiri. Ini belum juga bahas sumber daya yang nggak boleh berputar di golongan tertentu aja, harus ada redistribusi dari orang-orang yang punya kelebihan ke orang-orang yang kekurangan, makanya ada zakat, sedekah, dan lain-lain. Wow.

Ini sungguh sudah terlalu ngelantur, dan besok pagi saya harus ke kantor. Intinya, saya senang dan nggak menyesal belajar ekonomi Islam karena kok rasanya sesuai sama hati nurani. Kalau pun belum bisa diterapkan secara sistemik, saya bersyukur sedikit banyak sudah paham nilai-nilainya. Sebisa mungkin akan saya ajarkan juga di keluarga saya. Oke, sudah ditulis, semoga tidak lupa.

No comments:

Post a Comment